Di awal Tahun 2000an menjadi fase geliat musik Underground/independent Mulai menunjukan pergerakannya di Kota ini (Gorontalo). semakin aktifnya event-event Kolektif yang diselengarakan oleh teman-teman yang ada di Komunitas Punk diwaktu itu atau kita mengenal dengan istilah Party Punk, dimana ini menjadi panggung-panggung berekspresinya band-band Underground (Punk/SkinHead, Hardcore,Metal) Untuk menunjukan eksistensinya di Event Party Punk yang kita kenal.

mengenal Awal mula pergerakan event Kolektif Semacam Party Punk di Kota ini dimana kita melihat banyaknya band-band yang memainkan musik Underground (Punk, Hardcore, Metal) tampil di event-event Festival Musik yang notabene ini adalah satu-satunya sarana ekspresi mereka untuk menunjukan eksistensi di event yang bertaraf Festival Band.
Kurangnya wadah panggung untuk Band-band Independent, akhirnya melahirkan gerakan Event Kolektif yang akrab di telinga teman-teman dengan nama Party Punk/Underground atau istilah sekarang adalah Gigs.

Istilah Gigs lahir ketika banyaknya Band-band Independent/Underground mulai jenuh dengan Konsep-konsep Festival Band dimana musik itu hanya untuk Di Lombakan.

Memasuki Fase di awal tahun 2003 Scene Underground lokal (Punk, Hardcore, Metal) mulai menunjukan geliatnya dengan menerapkan konsep DIY (Do It Yourself) mulai dari masuknya Media Fanzine menjadi pendorong semangat pergerakan memajukan Scene Lokal agar bisa dikenal lebih luas, dengan membangun jaringan pertemanan di daerah-daerah tetangga setidaknya cukup mempengaruhi kemajuan suatu Scene agar bisa lebih dikenal, disaat bersamaan dengan gairah ingin membuat Album yang cukup sederhana banyak Band-band lokal yang Merilis Demo lagu dengan Rekaman Ala Kadarnya (Merekam Studio Secara Live) menjadi sejarah penting pergerakan awal yang di miliki teman-teman di Scene Punk/ Underground di daerah ini.

Sedikit terlambat memang bagi daerah ini untuk membangun pergerakan Scene Underground, tapi setidaknya kita bisa berbangga dengan Majunya perkembangan Musik Indepedent untuk kedepannya, ya meskipun masih dalam tahap berkembang, terhitung ada beberapa Band lokal di awal tahun 2000an yang sempat merilis Album, seperti The Watawatanga yang merilis album dalam format kaset di tahun 2003 “Asali Lo Nao de Jakarta” disusul dengan Why Not yang merilis Rilisan fisik CD Album ” Fucking Enemy” dan beberapa Band lokal lainnya hingga sekarang.

Pergerakan inilah yang banyak melahirkan banyak Komunitas Independent lokal, mulai dari Karya Hitam Street Crew yang merupakan pergerakan kreatif dari Teman-teman Scene Punk, Anjink Tanah Brotherhood dari Teman-teman Skin Head, Gorontalo Death Metal Sindikat, Kabut Hitam dan Gorontalo Indie yang merupakan media Webzine promo bagi band-band Indie lokal yang sekarang juga aktif mengadakan event/Gigs.

Selain itu setidaknya kita patut berbangga banyaknya Band-band Lokal daerah ini yang sempat mencicipi Panggung-panggung Festival Musik besar di Sulawesi, Mulai dari From Hell To Heaven dan Anti Virus dari unit Metal yang sempat menjadi Bagian Headliner Panggung Rock In Celebes, disusul dengan Iteneps yang memainkan Musik Punk Rock yang terbentuk di tahun 2000 yang juga sempat mencicipi Panggung Rock In Celebes di Tahun 2016 dan Kabar terbaru From Hell To Heaven yang menjadi barisan Line Up Festival Metal besar Hammersonic di tahun 2017.

Suatu kebanggaan bagi perkembangan Scene kita, karena telah melahirkan banyaknya Band-band yang cukup di akui diluar daerah sendiri. Mungkin ini hanya sebagian kecil Band-band berkualitas di daerah kita, Bukan hanya sekedar bermusik, setidaknya mereka punya karya fisik yang wajib di dengarkan hingga sekarang.
Oleh: Bayu Djafar